- TodayBerita – Kesulitan pelaku usaha mikro, dan kecil menengah (UMKM) ialah seputar masalah pencatatan. Banyak pelaku usaha merasa hal itu tidak berguna. Padahal sangat penting untuk mengetahui cash-flow keuangan dan hal-hal lainnya.
Penjelasan itu dijelaskan, Business Development Manager, Tri Wahyu Budi Setiawan S.IP, Kamis (3/6) pada Pelatihan Dasar Kewirausahaan yang dilaksanakan fakultas FISIP-Universitas Brawijaya secara daring dan dihadiri 187 peserta.
“Pelaku UMKM sering menganggap biaya makan, rokok, bensin waktu mengantar barang tidak perlu dicatat. Padahal itu pengeluaran terkait kegiatan bisnis,” kata Tri Wahyu.
Tri Wahyu berpendapat, saat belum berkembang, pemilik UMKM harus menjadi “karyawan” atau CEO. Dia harus hanya menerima gaji yang dipotong tiap bulan. Kalau tidak dikontrol begitu, UMKM baru itu akan kesulitan.
Tema pembicara berikutnya, pemilik Mimi Apple Pie Malang, Nisrina Yola Amalia, S.I.Kom menerangkan tidak perlu takut memulai berusaha asal dengan perhitungan.
Yola mengatakan, untuk mulai berusaha, pilihlah usaha yang disukai, rencanakan usaha yang akan dilakukan.
Lulusan Jurusan Komunikasi FISIP-UB angkatan 2014 itu menegaskan, bisa dimulai dengan membuat analisis SWOT dari usaha yang akan dilakukan. Kemudian siapkan nama yang menarik, berbeda dengan pesaing, mudah diingat dan diucapkan, serta terkait dengan produk.
Hal yang tidak kalah penting bagi pemula menurut Yola pengusaha pemula terkait pemasaran dan menjaga kualitas.
“Banyak usaha yang awalnya baik. Setelah ramai dan dikenal kualitas justru tidak dijaga dan menurun. Hal itu harus dihindari,” jelas mahasiswa Pasca Sarjana Unair tersebut. (Rey)